Dear ANSN User!

This site will look much better in a browser that supports web standards, but it is accessible to any browser or Internet device.


WORKSHOP PELAYANAN PRIMA PERIZINAN BAPETEN
Published : 2013-06-18 07:50:29 by admin
(Bogor, BAPETEN) Pelatihan pelayanan prima atau service excellence training adalah sebuah program training yg bertujuan menjadikan tim di dalam organisasi dapat memberikan pelayanan prima yang muncul dari hati kepada customer. Tentunya, untuk memberikan pelayanan yang baik dan tulus, perlu terlebih dahulu dibentuk menjadi seorang personal yang excellence dengan teknik-teknik tertentu. Untuk mengembangkan SDM perijinan BAPETEN maka Direktorat Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif (DPFRZR) melalui Balai Diklat BAPETEN menyelenggarakan Workshop Pelayanan Prima pada Sabtu (5/04) di Balai Diklat BAPETEN di Cisarua, Bogor.
Workshop yang diikuti oleh lima puluh peserta dari staf perijinan FRZR, bendahara dan administrasi serta staf pelatihan juga bertujuan agar para stakeholder yang mensupport pelayanan perijinan mempunyai persepsi yang sama tentang apa yang disebut layanan. Program ini sudah menjadi program Lembaga yaitu masuk dalam program service excellent yang telah berjalan 2 tahun. Program ini melanjutkan penyelenggaraan tahun lalu dimana pelatihan tidak bersifat tehnis namun mencari solusi untuk kekurangan di dalam perijinan, sedangkan workshop yang sekarang adalah khusus untuk pengembangan SDM perijinan.
Direktur Perijinan FRZR Sugeng Sumbarjo manyampaikan laporan bahwa ada tiga hal peningkatan pelayanan perijinan FRZR yaitu 1) peningkatan sarana prasarana perijinan yang saat ini dinilai telah cukup memadai; 2) telah menyusun sistem baik berupa regulasi maupun SOP yang menunjang perijinan dimana saat ini sedang menyusun servis level managemen untuk layanan digital yang akan dicanangkan 2014; dan 3) peningkatan SDM secara kuantitas maupun kualitas.
img_170613051952.jpg
Dilaporkan pula bahwa layanan B@LIS Exim online yang dicanangkan pada 2012 telah mendapat apresiasi yang baik oleh internal, pengguna, Bea Cukai dan Tim INSW. Selain itu, DPFRZR memfokuskan pengguna tidak dalam kriteria industri dan kesehatan namun masuk ke jenis kegiatan. Seperti bagi importir yang menjadi pintu utama sumber itu berasal, DPFRZR telah mendapat masukan dari permasalahan yang dialami importir sehingga dapat menemukan banyak ide solusi yang tepat. Seperti penggunaan radiografi, dimana Irredium yang diimpor mempunyai waktu paruh pendek, pengurusan perijinan yang sesuai aturan 25 hari kerja masih dinilai lama karena dapat mengurangi seperempat dosis sumber yang harus digunakan. Hambatan lain, implementasi PP Nomor 26 tahun 2002 bahwa pengguna atau penerima harus sudah mempunyai ijin. Untuk mengantisipasi lamanya proses perijinan diharapkan sebelum impor, aplikasi permohonan ijin pemanfaatan sudah diajukan ke BAPETEN sehingga pengguna dapat menerima ijin tidak lebih dari satu minggu.

Selain itu, negara pengirim memberikan notifikasi bahwa negara pengirim mengirimkan ZRA kepada perusahaan "A" dan konsen bahwa negara pengirim menanyakan apakah badan pengawas penerima sudah memberikan ijin. Kemudian masalah pengguna radiografi dan well logging yang menghendaki persetujuan pengiriman dilakukan dengan cepat kurang dari satu minggu jika mungkin 2 atau 3 hari. Poin yang lain, penerapan multi lokasi dan berlaku; diberikan dalam jangka waktu 3 bulan; dan jika memilih 5 lokasi dalam jangka waktu 5 bulan. Apabila bergerak, maka pengguna tersebut harus melaporkan pergerakan zat radiaktif. Diharapkan per 1 Mei multi lokasi dapat diterapkan.
img_170613052105.jpg
Kepala BAPETEN dalam sambutannya menyatakan bahwa perijinan adalah pintu depannya BAPETEN yang dipotret dari luar dan membawa nama baik Lembaga dan Negara. Dalam pelayanan perijinan diharapkan dapat mengetahui situasi lisensi yang dapat ikut merasakan apabila sebagai pengusaha yang mengajukan ijin. \"Sekarang lebih enak lagi kita memposisikan diri kalau kita sebagai pengusaha seperti dia mengajukan ijin diperlakukan seperti itu, bagaimana? itu paling nyaman kita melayani\", kata Kepala BAPETEN. Untuk itu Beliau mengharapkan agar pelatihan ini dapat membentuk pelayanan prima bagi perijinan di BAPETEN.

Disisi lain Beliau juga menyarankan dalam hal kompetisi yaitu bekerjalah lebih baik dari orang lain yang sebidang dengan anda dan lakukanlah terus. Di sisi lain, komunikasi dan koordinasi sebagai tim perijinan selalu dilakukan oleh personel yang mempunyai latar belakang yang berbeda.

Workshop dipandu oleh Ismail Zefa dan Andra dari Faztrack dimana teori dan game yang dibekalkan kepada peserta terdiri atas materi Personal Excellence, Faztrack Impression, Communication Style, Persuasive Communication; Customer Engagement dan Handling Dificult Situation. Peserta mengikuti pelatihan dengan antusias dan memberikan partisipasi yang positif yang menghidupkan suasana sehingga memberikan pencerahan kepada peserta.

Pelatihan ditutup secara resmi oleh Direktur Perijinan FRZR yang didampingi jajarannya dan dilanjutkan dengan evaluasi pelatihan dan kegiatan. Saah satu hasil evaluasi tersebut adalah Pelatihan Pelayanan Prima ini dapat diagendakan secara rutin dan dapat diikuti oleh semua pegawai BAPETEN terutama dalam pelayanan internal.
Source : BAPETEN